Jumat, 13 Desember 2013

Kelapa Indonesia - Ekpor dan Harga-harga


Indonesia menghasilkan kopra kelapa berfluktuasi antara 3 – 3,3 juta ton setahun dalam 13 tahun terakhir. Tahun 2012 diperoleh 3,33 juta ton, sedang tahun 2013 diperkirakan naik sedikit menjadi 3,36 juta ton. Areal kelapa Indonesia adalah yang terbesar di dunia (3,88 juta hektar), diikuti Filipina (3,1 juta hektar) dan India (1,2 juta hektar) dan Sri Lanka yang keempat. Meskipun luas areal kelapa Indonesia meningkat, namun produktivitas pertanaman cenderung semakin menurun. Pada 2010, produktivitas lahan kelapa Indonesia (4289 butir/hektar) masih rendah di bandingkan dengan India (8965 butir kelapa/hektar), Sri Lanka (6630 butir kelapa/hektar) dan Filipina (4562 butir/hektar). Kebanyakan dari pohon kelapa yang ada di Indonesia sudah berumur lebih dari 50 tahun dan kurang produktif. Selain itu kebanyakan kelapa Indonesia ditanam sebagai tanaman pekarangan belakang rumah yang kurang mendapat perawatan/pemupukan.

Antara 45-47% hasil kelapa Indonesia digunakan untuk konsumsi dalam negeri dan diproses sebagai minyak kelapa (CNO). Minyak kelapa yang dihasilkan pada 2012 sebesar 1,50 juta ton, sedang untuk 2013 naik tipis menjadi 1,52 juta ton. Selebihnya digunakan untuk keperluan ekspor.

Harga minyak kelapa di pasar dunia mengalami penurunan setelah naik dari tingkat US$861/MT (c.i.f) pada bulan Juli 2013, US$985/MT pada September/Oktober, dan US$1303.75 pada November 2013, kembali ke level di bawah US$1000 pada bulan Desember 2013. Harga FOB Rotterdam untuk minyak kelapa Indonesia sekitar US$ 935/MT.

Filipina merupakan negara produsen minyak kelapa peringkat satu dengan produksi 1,72 juta ton, disusul Indonesia dengan produksi 974.000 ton, dan India dengan produksi 447.000 ton. Ekspor Filipina sebesar 950.000 ton sedang Indonesia 700.000 ton.

Harga produk kelapa ekspor di Rotterdam (fob) Desember 2013:
Minyak Kelapa Indonesia (FOB) US$935/MT
Kopra Indonesia (FOB) US$ 693/MT
Dessicated Coconut (FOB) US$2212/MT
Coconut (husked) (FOB) US$167/MT
Coconut Shell Charcoal (FOB) US$338/MT

Coir Fibre Raw/Clean (FOB) US$334/MT

Produksi dan Ekspor Kopi Indonesia 2008-2013


Angka Perkembangan
   2008/09          2009/10         2010/11        2011/12          2012/13        2013/14
Production (dalam ribuan karung isi 60kg)
Brazil                       53,300     44,800     54,500     49,200     56,100    53,700
Vietnam                   16,980     18,500     19,415     26,000     24,950     24,800
Indonesia                10,000     10,500     9,325       8,300       10,500     9,200
Colombia                   8,664       8,100       8,525       7,655       9,000       9,000

Exports (dalam ribuan karung isi 60kg)
Brazil                       28,396     26,580     31,810     26,556     27,465     27,500
Vietnam                   15,430     18,425     18,215     23,890     23,200     23,000
Colombia                   8,160       6,445       7,400       6,675       7,700       8,000

Indonesia                  6,625       7,425       7,415       4,950       6,900       6,900

Rabu, 13 November 2013

SITUASI GULA DUNIA



Setelah mengalami surplus pasokan hingga lebih dari 10 juta ton pada 2012/13, diperkirakan untuk 2013/14 pasokan gula dunia akan turun hingga tataran 4 juta ton. Hal ini adalah karena tidak ada isyarat tambahan kebutuhan impor gula oleh konsumen terbesar dunia, China. Di pihak lain, manufaktur gula Brazil banyak mengalihkan perhatian pada produk derivat gula giling, yaitu etanol.

Tingkat produksi: Produksi gula Asia yang sempat terpuruk hingga di bawah 50 juta ton pada 2008/9, meningkat kembali pada tingkat sebelumnya sedikit di atas 60 juta ton pada 2010/11, dan meningkat lagi menjadi 65 juta ton pada 2012/2013. Produksi gula dunia  pada 2010/11 adalah 165 juta ton. Pada 2011/12 sebesar 175 juta ton, dan pada 2012/2013 naik lagi menjadi 180 juta ton. 

Tingkat konsumsi: Di Belanda, “kontroversi gula” telah meningkat menjadi isu hukum ketika kalangan kesehatan pada pertengahan 2013 mendesak pemerintah untuk menetapkan gula sebagai zat adiktif seperti narkoba yang membuat ketagihan dan mendatangkan risiko obesitas sehingga perlu dikendalikan tingkat konsumsinya melalui undang-undang/peraturan. Namun hal itu diperkirakan tidak mengerem laju pertumbuhan permintaan gula dunia. Konsumsi Gula dunia pada 2010/11 adalah 160 juta ton, pada 2011/12 sebesar 170 juta ton, dan pada 2012/13 sebesar 173 juta ton.

Minggu, 27 Oktober 2013

ASURANSI TERNAK SAPI DILUNCURKAN BANK INDONESIA DAN KEMENTAN

Rabu, 23 Oktober 2013 di Jakarta, Bank Indonesia dan Kementerian Pertanian bekerjasama dengan perusahaan asuransi meluncurkan skema Asuransi Ternak Sapi. Peluncuran ini ditandai dengan penyerahan polis kepada 10 peternak sapi anggota Koperasi Warga Mulya, Sleman dan anggota Asosiasi Peternak Sapi Boyolali (Aspin). Program ini merupakan salah satu implementasi dari Nota Kesepahaman yang terjalin antara kedua lembaga sejak 2011, yang bertujuan mendorong peningkatan akses kepada sumber-sumber pembiayaan untuk usaha di sektor pertanian. 

Karakteristik usaha sektor pertanian, khususnya subsektor budidaya dan pembibitan sapi, dianggap berisiko tinggi karena bersifat biologis yang rentan terhadap serangan penyakit dan kematian, sehingga dapat menyebabkan kerugian. Alasan ini mengakibatkan masih rendahnya penyaluran kredit di sektor usaha peternakan sapi. “Oleh sebab itu, sudah selayaknya usaha peternakan ini mendapat perhatian khusus untuk meminimalisir risiko melalui manajemen risiko dalam bentuk asuransi,” demikian disampaikan Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah dalam pidato sambutannya. Dalam mendukung terwujudnya swasembada pangan, Bank Indonesia juga telah menetapkan daging sapi sebagai salah satu prioritas Klaster Ketahanan Pangan mengingat kontribusinya yang cukup besar terhadap inflasi di berbagai daerah dan juga merupakan komoditas utama penyumbang impor. 

Data Bank Indonesia posisi Agustus 2013 menunjukkan bahwa kredit Bank Umum untuk sektor Pertanian mencapai Rp158,5 triliun, termasuk kredit pada subsektor Peternakan Budidaya yang mencapai Rp11,7 triliun atau 7,35%. Di sisi lain, kredit Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sektor pertanian mencapai Rp43,73 triliun termasuk kredit pada subsektor Peternakan Budidaya yang mencapai Rp6,5 triliun atau 14,95%. 

Asuransi ternak sapi memberikan jaminan penggantian kepada pemilik jika ternak sapi mengalami risiko kematian karena penyakit, kecelakaan dan melahirkan maupun risiko kehilangan atau lainnya sebagaimana diatur di dalam polis. Asuransi ini memberikan perlindungan terhadap atas risiko kerugian baik bagi peternak maupun perbankan. Adanya produk asuransi ini juga diharapkan dapat mendorong pendalaman industri asuransi dan perbankan secara umum dan menjadi momentum pengembangan asuransi sektor pertanian di Indonesia. Pada akhirnya, peluncuran produk ini diharapkan akan meningkatkan posisi tawar peternak dalam rangka mengakses sumber kredit/pembiayaan, dan di sisi perbankan akan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor pertanian karena sebagian risiko kegagalan telah diproteksi oleh asuransi. 

Skema asurasi ternak sapi ini telah mendapatkan ijin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan dengan menunjuk Konsorsium Asuransi Ternak Sapi (KATS) untuk memasarkan produk khusus asuransi ternak sapi di Indonesia. KATS diketuai oleh PT. Asuransi Jasa Indonesia (Persero), dengan anggota PT. Asuransi Umum Bumiputera Muda 1967, PT. Asuransi Tri Pakarta dan PT. Asuransi Raya. Pembayaran premi dapat bersumber dari swadaya petani, kredit bank (masuk dalam komponen kredit), kemitraan dengan lembaga lain maupun subsidi dari Pemerintah.

Sabtu, 26 Oktober 2013

PERKEBUNAN RAKYAT DAN BANK PERTANIAN



Perkebunan rakyat untuk berbagai komoditi sering  terkendala persoalan permodalan. Untuk memecahkan masalah permodalan bagi perkebunan rakyat itu dan pelbagai usaha tani lainnya, perlu adanya lembaga keuangan yang khusus membiayai pertanian. Masyarakat sudah lama merindukan lembaga keuangan ini, yang seharusnya berbentuk bank pertanian. Bukan bank umum, yang kurang mengindahkan irama kerja tani dan kebijakan serta cara kerja operasionalnya kurang selaras dengan siklus pertanian. 

Dengan menyelenggarakan bank pertanian masalah permodalan bagi petani akan dapat teratasi sekaligus pemerintah menunjukan komitmen keberpihakannnya kepada petani. Satu langkah nyata pada upaya peningkatan kesejahteraan petani. 

Selain itu beberapa tindakan pendukung lain yang diperlukan adalah percepatan pegembangan perkebunan rakyat melali perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman yang didukung investasi dan subsidi bunga pemerintah dengan melibatkan perusahaan dan koperasi. 

Wacana ini digulirkan dalam rangka peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-33 yang secara nasional akan diselenggarakan di Padang, Sumatera Barat, 24-27 Oktober 2013.

REGULASI UNTUK KETAHANAN PANGAN



Sudah banyak landasan Undang-Undang dan peraturan pemerintah yang mengatur soal pangan selama ini. Sejumlah regulasi yang diterbitkan eksekutif bersama legislatif bersifat fundamental dan kalau betul-betul dapat diimplementasikan secara maksimal akan dapat membangkitkan harapan para petani-petani skala kecil. Hal itu dikatakan Mentan Suswono dalam kunjungan ke Sumatera Barat, memberikan arahan dan materi dalam seminar nasional Hari Pangan Seduani (HPS) ke-33 bertema "Oprimalisasi Sumberdaya Lokal Melalui Diversifikasi Pangan Menuju Kemandirian Pangan dan Perbaikan Gizi Masyarakat Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015".

 Regulasi peraturan perundangan-undangan yang diterbitkan belakangan di antaranya UU tentang Pangan, kemudian UU tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, UU Holtikultura, UU Perlindungan lahan terlantar, UU Pemberberdayaan Petani, dan, sebentar lagi akan terbit UU tetang Tanah. Belum semuanya dilaksanakan secara optimal. Terkesan banyak pemerintah daerah belum fokus dan serius. Maka diperlukan rekomendasi masyarakat hasil seminar HPS itu mengarah pada solusi, misalnya masalah pertanahan pernyelesaiannya seperti apa. Begitu juga berkaitan persoalan perbenihan, jenis yang tepat ke depan seperti apa, infrastruktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) bagaimana harus dipersiapkan.


Pengembangan dan penguatan ketahananan pangan nasional bukan semata-mata menjadi beban kewajiban  Kementan saja, melainkan tanggungjawab  lintas sektoral dan juga memerlukan sinergi kebijakan pusat dengan daerah. Untuk itu kontribusi daerah-daerah sentra pertanian sangat dibutuhkan. Rekomendasi yang konkret dan implementatif yang perumusannya melibatkan berbagai unsur  sehingga akan menghasilkan suatu gebrakan yang positif dan berkontribusi besar untuk penguatan ketahanan pangan nasional ke depan hendaknya bukan saja berasal  dari peringatan HPS, tetapi juga berkesinambungan dari lembaga-lembaga penelitian daerah secara berkelanjutan, termasuk dari universitas dan lembaga perguruan tinggi yang mempunyai jurusan pertanian.

AHLI TANAH SE-ASIA BERTEMU DI BOGOR



Sekitar 350 ahli tanah di wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara berkumpul dalam acara Konferensi Internasional ke-11 Federasi Himpunan Ahli-ahli Tanah se Asia Timur dan Tenggara (ESAFS) yang digelar di Kota Bogor, pada 21-24 Oktober 2013. Konferensi ke-11 ini membahas tanah untuk ketahanan pangan dan energi atau “Land for Sustaining Food and Energy Security", merespon berbagai tantangan hidup dan kehidupan yang dihadapi oleh bangsa-bangsa se Asia Timur dan Tenggara.   

Dalam konferensi ini dibahas berbagai masalah yang berhubungan dengan tanah dan ilmu tanah seperti  perubahan tata-guna tanah dan masalah pemanasan global, produktivitas tanah dalam rangka produksi pangan dan bio-energy, pengelolaan tanah berkelanjutan, kualitas tanah dan siklus hara, pengelolaan air, dan hidrologi, serta sistem basis data tanah. Semua negara sepaham membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi seperti masalah emisi gas rumah kaca, pemanasan global, kelangkaan pangan dan energi, berhubungan dengan tanah dan pengelolaan tanah, baik tanah mineral maupun tanah gambut.

Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memecahkan masalah-masalah tersebut  dihasilkan dari penelitian yang dituangkan dalam kertas kerja ilmiah sebanyak 120 paper. Antara lain temuan penting tentang pengelolaan tanah mineral untuk mendukung produksi pangan seperti beras, jagung, dan biji-bijian lainnya secara berkelanjutan dengan melakukan pengolahan tanah, pemupukan dan penambahan amelioran yang tepat.

Temuan penting lainnya mengenai pengembangan sawit sebagai bahan pangan dan energi secara berkelanjutan dengan memperhatikan pengelolaan tanah sesuai dengan sifat dan ciri tanah, serta kondisi lingkungan yang tepat untuk tumbuh sawit.

Sedangkan untuk isu tanah gambut, Indonesia dapat mengelola secara berkelanjutan tanah gambut yang mengakumulasi rosot karbon (carbon sink) secara positif dengan melakukan pengelolaan air yang tepat dengan "eco-hydro system", pengelolaan tanah tanpa membakar, dan pemilihan jenis tanaman yang tepat dapat menjadi rekomendasi mengelola lahan gambut dengan baik.

Konferensi ini menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Ketua Himpunan Ahli Tanah yang juga Presiden Federasi Ali Tanah se-Asia Timur dan Tenggara, Yuswanda Tumanggung, Kepala Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertani, Murizal Sarwani, Guru Besar ahli tanah, Prof Muhajrin Utomo, dan Prof Sofyandi ahli tanah IPB. Peserta Konferensi sekitar 350 orang berasal dari ahli-ahli tanah anggota Federasi Himpunan Ahli-ahli Tanah se Asia Timur dan Tenggara, yakni Taiwan, China, Jepang, Korea, Indonesia, India, Malaysia, Thailand, Filiphina, Bangladesh, Sri Lanka, Pakistan dan Vietnam. Hadir juga ahli tanah dari negara undangan seperti Australia, Kanada dan Amerika Serikat.